Malam



Malam

Dalam bingkai jendela
Raga duduk bersama jiwa yang terbang
Mengambang sembari berkilat-kilat
Bersandingkan taburan bintang-bintang
Namun angin tak putus asa
Merajut angan dikegelapan malam
Gelap dan dingin
Histeria tangis berkelebat
Sakitpun berdetak-detak
Menyusup-nyusup
Terseret-seret
Teriak tak sanggup terungkap
Kata-kata membisu seakan terjerat
Bersahut-sahutan
Terombang-ambing dilaut rintihan
Malam,
Denganmu aku tertikam
Dengamu pula aku bertahan
Karya: Nila Zulva Rosyida
21 Mei 2015

Lelap



Lelap

Ketika cahaya terpaksa habis
Hitampun mendesak waktu
Cepat!
Terlarut-larut
Sepi menggertak!
Sunyipun mendadak
Semilir angin bernyanyi dingin
Membuai dan menggoda
Lelap…
Bayang-bayang mereka-reka
Akal tak lagi berada
Nyata tak lagi terasa
Daya dan upaya tak ada guna
Dikala remang telah tuntas
Merapatkan batas-batas
Mengantarkan mimpi dan khayalan
Menari girang dalam pikiran
Melayang-layang dalam buaian malam
Karya: Nila Zulva Rosyida
21 Mei 2015

Jembatan



Jembatan

Sedalam-dalam sajak tak mampu menampung air mata bangsa.
Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
Dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.
Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta.
Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang.
Wajah legam para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase indah di berbagai palaza.
Wajah yang diam-diam menjerit mengucap tanah air kita satu
Bangsa kita satu bahasa kita satu bendera kita satu !
Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara
Jalan jalan mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang ada,
Tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang di antara kita?
Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot linu mengerang mereka pancangkan koyak-miyak bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara.
Gerimis tak mampu mengucapkan kibarannya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.
Karya: Sutardji Calzoum Bachri
(Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air)